Tuesday, May 27, 2014

Cinta Suci Ku

Ini adalah kisahku yang mempercayai bahwa dia adalah CINTA SUCIKU yang akan kembali kepadaku. Aku senang bisa mendapatkannya kembali, karena kami sudah lama berpacaran dan hubungan kami kandas karena kehadiran orang ketiga, tapi kami sudah berjanji untuk saling mempercayai dan karena itu aku sudah sangat menyayanginya. Pagi itu aku sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah karena aku akan bertemu dengan dia, tapi semua tidak seperti yang kuharapkan. Tiba-tiba temanku mendekatinya lalu berbisik, aku heran dan bergumam dalam hati “kenapa Abbray ngedeketin Dinda?” “padahal kan dia tau kalau Dinda itu milikku”. Aku tidak terlalu menghiraukan, tapi entah kenapa air mataku langsung keluar dan mengalir dengan derasnya. Aku pun meminta tolong kepada temanku yang bernama Ade TiVani untuk memanggil Dinda “De tolong panggilin Dinda dong” “iya, tapi bilang apa?” ujar Ade. “bilang aja Arman nangis” ujarku, Ade pun berlari menuju tempat Dinda dan Munira berbicara. Tak lama kemudian Dinda datang menghampiriku dan berkata “kamu kenapa?, kok nangis?” ujar Dinda “gak papa kok Din” ujarku, “kalau gak papa kenapa nangis?” ujar Dinda. Aku hanya diam, terpaku melihatnya karena aku sungguh menyayanginya. Dinda memegang tanganku dan berkata “air matanya ngalir tuh” ujar Dinda, “gak kok Din” ujarku sambil mengusap air mata yang memang dari tadi mengalir di pipiku. Tiba-tiba Munira menarik tangan Dinda membawanya pergi, aku hanya bisa diam karena aku tidak mau menunjukkan bahwa aku sangat membutuhkan kehadiran Dinda. Munira dan Dinda pun pergi meninggalkanku sendiri, aku pun bersama teman-temanku. Sudah lama kutunggu kedatangan Dinda untuk menemaniku, tapi dia berada di depan kelas bersama Munira, Rinda, Khairunissa dan Abbray. Dengan sengaja aku berjalan menuju kelas “Arman tolongin aku nah” ujar Dinda, aku pun membiarkan karena aku merasa sakit hati lalu dengan sengaja ku sapa Widya dengan wajah gembira “Widya” ujarku “iya Arman” Widya membalas sapaanku terhadapnya. Tak lama bell masuk kelas pun berbunyi Dinda dan Munira pun beranjak pergi dari depan kelas. Aku pun memulai pelajaran dengan keadaan yang tidak semangat, setelah belajar bell istirahat pun berbunyi aku mendapat kabar yang sangat mengejutkan, “Ar kamu tau gak kalau Abbray suka sama Dinda?” ujar Chici, “yang bener” ucapku. Belum sempat Chici berkata aku langsung pergi menghampiri Ade dan memanggil Dinda, “Dinda sini dulu” ucapku, Dinda datang “apa?” ucap Dinda, aku langsung bertanya soal Abbray. “Dinda suka kan sama Abbray, jujur aja” “gak Arman” ucap Dinda, “halah gak usah bohong Din” ujarku tak lama kemudian Munira datang dan lagi-lagi menarik Dinda dan membawanya pergi. Saat itu aku sangat lemah karena masalah itu, tapi aku mencoba untuk tetap tegar mengahadapinya. Aku pun pergi mendatangi Fajri, entah kenapa saat di sampingnya air mataku menetes karena mengingat soal Abbray yang suka sama pacarku Dinda. Saat air mataku mengalir deras, aku mencoba untuk memanggilnya “Dinda” teriakku dengan suara yang sangat tidak berdaya. Dinda pun datang dan bertanya “kenapa nangis lagi?” ujar Dinda, aku hanya bertanya “benerkan kamu juga suka sama Abbray terus kamu di tembak dia” ucapku dengan kesal. “gak tu nah Ya Allah” ucap Dinda “gak usah bohong ” ucapku. Tak lama bell masuk pun berbunyi Dinda pun pergi meninggalkanku. Saat di dalam kelas aku hanya bisa terdiam dan bersedih. Bell pulang sekolah pun berbunyi, aku pun langsung pulang ke rumah, setelah sampai di rumah aku pun mengambil Handphoneku yang ada di samping bantal tempat tidurku, dan membuka HP. Kemudian ku PING temanku yang bernama Annisa melalui BBM. “Annisa aku harus gimana?” ujarku ke Annisa melalui BBM, “kamu kacangi aja mereka” ujar Annisa, “tapi aku gak bisa kaya gitu Annisa” ucapku, “ya udah terserah kamu aja, tapi ingat jangan GALAU ya Arman” ujar Annisa menyemangatiku. Dinda pun mengirim BBM ke aku “sayang” kata Dinda “iya” balasku. Tiba-tiba perubahan sangat terlihat dari Dinda, dia tidak ada lagi membalas BBM-ku. Aku hanya bisa berkata “ya sudahlah”. Ketika sampai di sekolah aku hanya bisa tersenyum untuk menutupi kerapuhanku yang terjadi karena perbuatan Abbray dan Dinda sudah jadian. “ya sudahlah” ucapku dalam hati. Ketika aku berada di dalam kelas bersama Winalda teman sebangku ku “Win, kok aku ngerasa dia cinta suciku yah” ucapku pada Winalda, “itu karena Batinmu bisa ngerasain kalau memang dia cinta sucimu” ucap Winalda. “dia bakalan balik ke kamu Ar, karena dia cinta sucimu” ucap Winalda menyemangatiku, aku hanya membalas dengan senyuman. “aku yakin kamu bakalan balik lagi ke aku, karena takdirmu itu aku dan takdirku itu kamu” ucapku dalam hati, dan aku hanya mengucapkan selamat tinggal pada Dinda Tilana.

No comments:

Post a Comment